GARA-GARA BBM PALSU, SHELL JADI PILIHAN UTAMA DI TANGERANG

 

Tangerang –  Pada 18 Mei 2025, daya jual bensin Shell di Kota Tangerang meningkat tajam menyusul menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Pertamina akibat kasus pemalsuan BBM Pertamax 92 dan Pertalite. Banyak pengendara beralih ke Shell yang tak hanya menyediakan bahan bakar berkualitas, tetapi juga menawarkan layanan servis mobil dan motor sebagai nilai tambah.

 

Masyarakat berbondong-bondong beralih ke SPBU swasta

Menanggapi situasi tersebut, masyarakat mulai menghindari pembelian BBM di SPBU milik negara dan memilih alternatif lain yang dianggap lebih aman. Shell sebagai salah satu operator swasta menunjukkan peningkatan transaksi yang signifikan dari sebelumnya.

Pengendara yang sebelumnya mengandalkan Pertamina, kini berusaha menyesuaikan kebiasaan mereka dengan menggunakan produk dari Shell. SPBU Shell sendiri menyediakan fasilitas modern, seperti ruang tunggu nyaman, toilet bersih, serta layanan servis kendaraan yang semakin menambah minat masyarakat.

Sementara itu, Ombudsman menekankan pentingnya kepastian hukum, perlindungan hak-hak masyarakat, serta transparansi dalam implementasi kebijakan pengadaan bahan bakar minyak (BBM) untuk mencegah terjadinya mala-administrasi.

Dengan meningkatnya kepedulian masyarakat dalam memilih bahan bakar yang aman dan terpercaya, kompetisi antar penyedia BBM berkembang semakin ketat. Dalam beberapa pekan terakhir, terjadi peningkatan aktivitas pembelian bahan bakar di sejumlah SPBU swasta seperti Shell dan Vivo. Fenomena ini berdampak langsung terhadap dinamika persaingan sektor hilir migas, khususnya dari sisi ekonomi konsumen dan pelaku usaha. Beberapa pengemudi mengaku memilih berpindah karena mengedepankan kenyamanan.

“Saya mendengar berita-berita bahwa bensin-bensin pertamina itu banyak yang dioplos terutama di FYP saya bahwa di Ciledug itu Pertalite isinya air semua.” Ujar salah seorang pengguna Shell.

Di sisi lain, meningkatnya pergeseran ini berpotensi memengaruhi distribusi belanja konsumen sektor energi, terutama bagi kelompok rumah tangga menengah ke atas yang memiliki fleksibilitas dalam memilih produk. Konsumen semacam ini cenderung mempertimbangkan faktor kualitas, kenyamanan, serta persepsi keamanan pasokan.

Shell Indonesia sendiri telah memperluas jaringan SPBU-nya dan memperkenalkan berbagai promo yang mendorong masyarakat mencoba layanan mereka. Perusahaan juga mengembangkan aplikasi pembayaran digital yang mempermudah konsumen dalam mengakses transaksi non-tunai. Strategi ini berhasil menarik perhatian kelas menengah urban di wilayah Kota Tangerang, terutama para pengendara ojek online.

“Saya pindah ke Shell karena enak sih ga brebet, dibawanya juga enteng.” Ujar salah seorang pengemudi ojek online.

Namun demikian, pemerintah diharapkan tetap memantau dan mengevaluasi dampak makroekonominya, terutama terhadap stabilitas pasokan dan keberlanjutan subsidi BBM bagi kelompok rentan. Jika pergeseran ini terus berlanjut, Pertamina perlu merespons dengan memperbarui strategi pelayanan dan membenahi sistem operasionalnya agar tetap kompetitif.

Perubahan ini menunjukkan bahwa ekonomi energi Indonesia tengah bergerak menuju ekosistem yang lebih kompetitif dan berorientasi konsumen. Dengan membuka ruang persaingan yang sehat, masyarakat dapat memperoleh pilihan yang beragam, sementara perusahaan didorong untuk memperbaiki mutu layanan dan efisiensi operasionalnya.

Komentar